Please use this identifier to cite or link to this item: http://localhost:8080/jspui/handle/123456789/1725
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.authorBakhti, Ringkang Akbar-
dc.date.accessioned2026-01-15T07:17:24Z-
dc.date.available2026-01-15T07:17:24Z-
dc.date.issued2021-
dc.identifier.urihttp://localhost:8080/jspui/handle/123456789/1725-
dc.description.abstractPembuatan zat warna dari bahan alam banyak digunakan sebagai pemanfaatan limbah bahan alam untuk pewarnaan bahan tekstil. Sumber pewarna alami biasanya berasal dari tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Pewarna alami dari tumbuhan bisa ditemukan pada bagian daun, bunga, buah, kulit batang/kayu dan akar. Salah satu pewarna alami adalah kulit pohon jati tua yang memiliki pigmen warna seperti flavonoid dan kuinon. Kulit pohon jati merupakan limbah yang dapat menimbulkan polusi saat dibakar, sehingga untuk mengurangi polusi kulit kayu jati digunakan pada proses pewarnaan kain sutera. Ekstraksi adalah salah satu jenis proses pemisahan yang memisahkan suatu bahan tertentu seperti zat warna alam dari suatu padatan atau cairan induk dengan bantuan pelarut. Pewarna alami umumnya diekstrak dengan cara direndam dalam pelarut air dan jika ingin didapatkan ekstrak yang lebih pekat dapat dilakukan penguapan. Suhu tinggi pada proses penguapan membuat degradasi zat warna, karena senyawa alam sangat sensitif terhadap pH, cahaya matahari, dan suhu. Filtrasi membran digunakan sebagai alternatif pemekatan konsentrasi zat warna alam karena tidak menggunakan temperatur tinggi. Kulit pohon jati diekstrak menggunakan air dengan perbandingan 1:20 pada suhu 90-100°C selama 90 menit. Kemudian dilakukan analisa cara filtrasi zat warna alam dengan membran dan menganalisa perbedaan arah warna hasil pencelupan larutan ekstrak yang konsentrasinya dipekatkan metode penguapan (penguapan) dengan larutan ekstrak yang dipekatkan menggunakan metode filtrasi membran. Membran yang digunakan pada penelitian ini adalah PVDF (Poliviniliden fluorida) yaitu polimer sintetik yang bersifat hidrofobik, termoplastis dan memiliki ketahanan termal yang cukup tinggi. Filtrasi membran dilakukan dengan sel alat filtrasi dead- end yang memanfaatkan gaya dorong dan ukuran pori membran. Membran akan melewatkan partikel yang memilki ukuran lebih kecil dari pori, sehingga pada bagian larutan umpan akan terjadi pemekatan konsentrasi zat warna yang ditandai kenaikan nilai absorbansi. Hasil pemekatan menggunakan metode penguapan mengalami degradasi zat warna dibanding dengan hasil pemekatan metode filtrasi membran. Senyawa dalam ekstrak berupa flvavonoid dan kuinon yang merupakan pemberi warna pada ekstrak memiliki kemungkinan terjadinya perubahan struktur maupun gugus yang terdapat di dalamnya. Sehingga ketika setiap jenis larutan ekstrak disamakan konsentrasinya menggunakan perhitungan dari persamaan regresi dan diencerkan, larutan ekstrak hasil pemekatan penguapan terjadi penurunan intensitas warna yang cukup tinggi. Hasil pencelupan antara ekstrak hasil pemekatan metode penguapan dan filtrasi membran memiliki arah warna yang hampir sama. Namun pada ketuaan warna nilai K/S hasil pemekatan filtrasi membran lebih besar dibanding nilai K/S hasil pemekatan metode penguapan. Ekstrak dengan zat warna yang terdegradasi tidak akan banyak terserap pada bahan sehingga warna yang dihasilkan cenderung lebih muda.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.titlePROSES PEMEKATAN LARUTAN EKSTRAK ZAT WARNA ALAM DARI KULIT POHON JATI (Tectona Grandis) MENGGUNAKAN METODE FILTRASI MEMBRAN UNTUK PENCELUPAN PADA KAIN SUTERAen_US
dc.typeOtheren_US
Appears in Collections:Kimia Tekstil

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
BAB I.pdf2.18 MBAdobe PDFView/Open
Daftar Isi.pdf2.18 MBAdobe PDFView/Open
Daftar Pustaka.pdf2.17 MBAdobe PDFView/Open
Intisari.pdf2.17 MBAdobe PDFView/Open
Lampiran.pdf2.18 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.