Please use this identifier to cite or link to this item:
http://localhost:8080/jspui/handle/123456789/1723| Title: | PENGARUH KONSENTRASI NATRIUM HIDROSULFIDA DAN SUHU PADA PENCELUPAN KAIN KAPAS DENGAN ZAT WARNA SULFUR METODE EXHAUST TERHADAP KETUAAN WARNA |
| Authors: | Anita, Prahasti |
| Issue Date: | 2021 |
| Abstract: | Proses pencelupan kain kapas dengan zat warna sulfur di PT X sering mengalami masalah warna yang tidak sesuai dengan standar laboratorium, yaitu ketuaan warna menurun. Proses pencelupan zat warna sulfur memiliki prosedur yang kompleks karena partikel tidak larut dalam air dan tidak memiliki afinitas terhadap serat selulosa dalam kondisi tersebut. Dengan demikian sebelum proses pencelupan zat warna sulfur harus direduksi untuk diubah menjadi bentuk garam leuco yang larut dalam air dan memiliki afinitas terhadap serat selulosa. Zat pereduksi yang digunakan harus memiliki nilai potensial reduksi yang cukup untuk mereduksi semua zat warna. sebaliknya reduksi berlebih juga akan menurunkan afinitas zat warna terhadap selulosa dan dapat menghasilkan ketuaan warna dan kelegaman warna yang rendah atau pudar. Suhu tinggi akan memecah agregat zat warna secara bertahap menjadi molekul individu, sementara panas yang dihasilkan akan mendorong laju difusi dan mempercepat penetrasi zat warna ke dalam serat. Hal tersebut akan mempengaruhi ketuaan warna karena zat warna yang terserap akan semakin banyak. Pada penelitian ini digunakan zat warna sulfur hitam dengan memvariasikan konsentrasi natrium hidrosulfida (0 g/L; 3 g/L; 6 g/L; 9 g/L; 12 g/L) serta suhu pencelupan yaitu 95°C dan 105°C. Selanjutnya hasil pencelupan dievaluasi meliputi pengujian ketuaan warna, pengujian kerataan warna, pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian, dan pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan. Hasil dari pengujian yang dilakukan menyatakan contoh uji dengan konsentrasi natrium hidrosulfida 9 g/L dan suhu pencelupan 105°C memiliki warna yang paling hitam dengan nilai L* sebesar 16,11, dan kerataan warna dengan standar deviasi sebesar 0,13. Tahan luntur terhadap pencucian menunjukkan nilai 3-4 pada penodaan kain kapas dan nilai 5 pada penodaan kain poliester, pada tahan luntur terhadap gosokan menunjukkan nilai 5 pada penodaan kain kapas hasil gosokan kering, dan 2-3 pada penodaan kain kapas hasil gosokan basah. Variasi konsentrasi natrium hidrosulfida 9 g/L dan suhu 105°C sekarang telah digunakan sebagai resep standar PT X karena memiliki hasil ketuaan warna yang mendekati nilai ketuaan warna standar PT X. |
| URI: | http://localhost:8080/jspui/handle/123456789/1723 |
| Appears in Collections: | Kimia Tekstil |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| BAB I.pdf | 1.52 MB | Adobe PDF | View/Open | |
| Daftar Pustaka.pdf | 1.51 MB | Adobe PDF | View/Open | |
| Intisari.pdf | 1.52 MB | Adobe PDF | View/Open | |
| Lampiran.pdf | 1.52 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.